loader image

Lumajang – Kebiasaan anak yang sering merespons dengan ucapan “hah?” saat dipanggil masih kerap dianggap sebagai sikap tidak fokus, malas, atau bahkan membangkang oleh orang tua. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal adanya gangguan pendengaran pada anak.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan pendengaran anak, RS Wijaya Kusuma Lumajang menggelar kegiatan edukasi kepada orang tua pada Selasa, 24 Februari 2026 di ruang tunggu Poliklinik Terpadu RS Wijaya Kusuma Lumajang.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk talkshow bertajuk “Waspada! Anak Sering Bilang HAH?”, dalam rangka memperingati Hari Pendengaran Sedunia atau World Hearing Day 2026.
Dalam kegiatan ini, dijelaskan bahwa terdapat beberapa tanda anak mengalami penurunan fungsi pendengaran yang sering tidak disadari oleh orang tua, seperti tidak merespons saat dipanggil, sering meminta pengulangan saat diajak berbicara, berbicara kurang jelas, hingga kesulitan memahami instruksi sederhana. Bahkan dalam beberapa kasus, gangguan pendengaran juga dapat berdampak pada menurunnya prestasi belajar anak di sekolah.

Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 250 orang yang terdiri dari pasien rawat jalan dan keluarga pasien di sela pelayanan poliklinik. Pasien dan keluarga pasien menyambut dengan sangat antusias edukasi yang diberikan, ini terlihat dari sesi tanya jawab yang interaktif. Pasien dan keluarga pasien menyampaikan bahwa edukasi ini menjadi gerbang informasi ketidaktahuan orang tua pada kondisi pendengaran anak mereka.

“Sering kali orang tua mengira anak tidak fokus atau sengaja mengabaikan panggilan. Padahal bisa jadi anak memang tidak mendengar dengan jelas,”.

Gangguan pendengaran pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya penumpukan kotoran telinga, infeksi telinga, serta batuk pilek berulang yang tidak ditangani secara tuntas. Jika kondisi ini tidak segera dideteksi sejak dini, maka berpotensi mengganggu perkembangan bicara, kemampuan belajar, hingga kepercayaan diri anak dalam berinteraksi sosial.
Melalui kegiatan ini, orang tua juga diimbau untuk tidak membersihkan telinga anak menggunakan cotton bud serta segera memeriksakan kondisi telinga anak apabila muncul tanda-tanda mencurigakan.

Pemeriksaan telinga secara rutin di fasilitas kesehatan terdekat menjadi langkah penting untuk mencegah dampak jangka panjang akibat gangguan pendengaran.
RS Wijaya Kusuma Lumajang berharap melalui edukasi ini, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini gangguan pendengaran pada anak dapat meningkat. Dengan telinga yang sehat, anak akan lebih percaya diri, mudah belajar, serta memiliki masa depan yang lebih cerah.

#WHD2026
#communityengangement_and_inclusiveclassroom_for_hearinghealthequity
#listentoday_leadtomorrow
#anakbisamendengar_anakbisa belajar
#orangtuapeduli_anakberprestasi
#anakhebat_prestasimelesat
#mendengarjelas_masadepan takkandas
#komdapgpkt_lumajang
#RSWK_selalu_di_hati

 

Galeri Kegiatan